GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Mengembalikan Kejayaan Udang Windu Sulawesi Selatan

Mengembalikan Kejayaan Udang Windu Sulawesi Selatan

UdangMasih teringat di dalam memori saya ketika almarhum Dr. Ir. Mas’ud Sikong mengajar kami di Mata Kuliah Dasar-Dasar Akuakultur tahun 1984.Beliau menerangkan bahwa tahun 198…

Mengembalikan Kejayaan Udang Windu Sulawesi Selatan

Udang
Udang

Masih teringat di dalam memori saya ketika almarhum Dr. Ir. Mas’ud Sikong mengajar kami di Mata Kuliah Dasar-Dasar Akuakultur tahun 1984.

Beliau menerangkan bahwa tahun 1980 ekspor udang Indonesia mengalami penurunan disebabkan Kepres No 39 Tahun 1980 tentang larangan pemakaian pukat harimau.

Mulai saat itu kita harus berpikir memanfaatkan lahan budidaya yang dikelola secara tradisional dengan modal buka tutup pintu air pada pasang surut. Sehingga benur udang windu bisa masuk secara alami ke dalam tambak.

Jauh sebelum itu, sebetulnya praktik budidaya udang windu sudah dimulai di Jeneponto pada tahun 1962. Budidaya dipelopori PT. SERDID ( Serikat Dagang Indonesia Djeneponto).

Konon kabarnya PT SERDID mengadopsi ilmu budid aya udang dari warga Jepang bernama Fujinaga. Fujinaga sudah melakukan penelitian sejak tahun 1933, tentang kemungkinan budidaya udang Kuruma, Kuruma Ebi atau Penaeus Japonicus.

Pada tahun 1939, Fujinaga dibantu Prof. Yoshiyuki dari Universitas Tokyo, berhasil mengembangkan nauplius ke tingkat zoea sampai mysis.

Setelah hampir 9 tahun melakukan eksperimen, tahun 1942 Fujinaga menerbitkan hasil penelitiannya. Butuh waktu 20 tahun dari 1942, hasil penelitiannya baru diaplikasikan di Jeneponto. Itupun bukan pada jenis P. japonicus tetapi Penaeus monodon.

Ilmu Fujinaga masih jelas terlihat di hatchery udang Windu PT. Sulawesi Agro Utama yang konon kabarnya membeli hatchery ini dari PT SERDID sekitar tahun 1980an awal.

Saya pernah 2 tahun (1988-1989) bekerja dan menimba ilmu di hatchery udang windu PT Sulawesi Agro Utama itu, terletak di Desa Ela-Ela, Kabupaten Bulukumba.

Pembenihan udang windu pertama dilakukan di Paotere pada tahun 1970 yang merupakan mili k Dinas Perikanan Sulawesi Selatan. Bisa dibayangkan bahwa sejarah udang windu itu berasal dari Sulawesi Selatan.

Tahun 1972 petani tambak di Jawa baru mulai membudidayakan udang windu. Masih terekam dengan baik, almarhum Alie Poernomo, oom-nya Dody Dharmawan yang memulai meneliti dan mempelopori budidaya udang windu di Jawa.

Rekam jejak dan sejarah di atas sejatinya tidak bisa dihilangkan begitu saja. Adalah suatu hal yang wajar ketika budidaya udang windu ini ingin “dimatikan” dari seluruh penjuru melalui alasan penyakit dan tidak bisa dikembangkan lagi.

Tetapi juga sangat wajar sekali kalau udang windu dijadikan primadona, spesies unggulan dan ikon Sulawesi Selatan dari komoditas perikanan. Tahun 1989 ketika Kaisar Jepang, Hirohito wafat, ekspor udang windu kita ke Jepang anjlok karena rakyat Jepang prihatin sehingga tidak melakukan pesta.

Baca :Meriahkan jalan santai alumni Unhas, ini harapan IKA Perikanan

Udang Windu adalah udang kelas 1 di Jepang. Ti dak ada alasan untuk berhenti memproduksi udang windu kualitas no 1 ke Jepang dan Amerika. Saya kira ini yang harus dilihat oleh pemerintah.

Ada suatu masa di akhir tahun 1980-an, Jepang tidak mau menerima udang windu dari Sulawesi Selatan karena dianggap warnanya tidak terlalu gelap dan cenderung kebiru-biruan.

Saya masih ingat perdebatan itu sampai kepada warna. Buat orang Indonesia yang tidak mempunyai kultur memakan mentah hasil laut termasuk udang, mungkin warna tidak menjadi soal karena semuanya ujungnya di penggorengan, perebusan, dan pembakaran.

Buat orang Jepang, warna menjadi penting karena tingkat kesegaran dan asal ikan dan udang akan ditunjukkan dari warna. Konon kabarnya, waktu itu sebuah perusahaan besar makanan udang tidak memasukkan suatu konten dalam produk makanan udang untuk menghemat biaya. Tetapi perusahaan itu lupa bahwa mereka sebetulnya telah memotong rantai pigmen warna dari si udang windu. Perusahaan itu menyadari dan ekspor udang windu ke Jepang kembali bisa dilakukan.

Baca :Alumni Perikanan akan kelola lahan terbengkalai jadi tambak modern

Sejarah kesuksesan ini bisa dijelmakan kembali dengan strategi yang lain, karena variabel pendukung berubah. Sejatinya kita berpikir bahwa jumlah produksi udang windu tidak linear dgn pertambahan nilai.

Budidaya udang windu tidak selalu harus semi intensif dan intensif. Kembalikan kejayaan udang windu tidak selalu berarti udang windu terus yg akan dibudidayakan tetapi dibuatkan peta geografi dan pola serta waktu musim tebar yang berdamai dengan alam.

Biarkan teknologi dan inovasi yang bekerja untuk menjadikannya bernilai lebih dan biarkan alam mengatur siklus budidaya udang windu dan komoditas budidaya penting lainnya.

Pemerintah baru Sulawesi Selatan sudah punya niat baik dan goodwill yang harus didukung oleh semua pemangku kepentingan. Biarkan udang windu membuat kita semua bangga di percaturan perdagangan komoditas elit di dunia Internasional.

Ba ngkit dan jayalah udang sitto kita! Aamiin!

Tulisan ini adalah kiriman dari kolumnis makasar terkini, isi dari tulisan ini adalah tanggungjawab penulis yang tertera, tidak menjadi bagian dan tanggungjawab redaksi makassar.terkini.idEditor : Muhammad YunusSumber: Sulawesi Selatan

No comments